Friday, 29 May 2015

Matinya 4 orang Jin ketika dibacakan ayat ''Kullu Nafsin Dzaaiqotul Mauut''


Ibnu Abi Ad-Dunya dan Ibnu Al-Jauzi menyampaikan dari Yahya bin Abdurrahman Al-Qashari bahwasanya ia berkata,''Istri Khalid menyampaikan kepadaku, dari Khalid bahwa ia berkata,'Aku pernah berdiri untuk mengerjakan shalat dan membaca ayat ini, ''Setiap yang bernyawa akan merasakan mati''
'Aku membacanya berulang-ulang.
Lalu ada yang menyeruku dari sisi rumah, ''Berapa kali kamu mengulangi ayat ini?? Kamu telah membunuh empat orang jin diantara kami (bangsa jin), Mereka tidak mempu mengangkat kepala mereka kelangit hingga mati lantaran kamu mengulang-ulang ayat ini.'Istri Khalid mengatakan , setelah itu Khalid sangat menyesal dan jiwanya tertekan (sebab tanpa sengaja membunuh jin sebab bacaan Shalatnya)


Dikutip dari Kitab Imam Jalaludin Al Suyuthi berjudul "Menguak Misteri Alam Ghoib"  (mutarjam) halaman 276

Resiko Peruqyah dan Sebab Kegagalan Ruqyah-nya

                    

Beberapa peruqyah sering mengeluh dengan DAMPAK yang di dapatkan setelah melakukan ruqyah pada pasiennya,
padahal Ibnul Qayyim berkata: ''Termasuk perkara yang dimaklumi bahwa sebagian ucapan memiliki keistimewaan dan kemanfaatan yang telah teruji. Maka bagaimana kita menganggap ucapan Rabb semesta alam ini..??
Tentunya keutamaan ucapan-Nya atas segala ucapan yang lain seperti keutamaan Alloh Ta'ala atas seluruh makhluk-Nya.
Ucapan-Nya merupakan penyembuh yang sempurna, pelindung yang bermanfaat, cahaya yang memberi petunjuk, dan rahmat yang menyeluruh.
Ucapan-Nya yang jika diturunkan kepada sebuah gunung niscaya akan pecah karena keagungan dan kemuliaan-Nya.'' (Zadul Ma'aad, Muassasah Ar-Risalah hal.162-163).

Hal ini merupakan pertanda tidak ada yg bisa mengalahkan Kekuasaan dari kalimat-kalimat Alloh yang SEMPURNA, namun mengapa banyak dari peruqyah yang mengalami banyak dampak NEGATIF dari ruqyahnya..???

Berbagai macam bentuk keluhan yang diantaranya adalah peruqyah mengalami sakit kepala, panas dingin, bahkan ada yang sampai bertarung dan berkelahi dengan jin dalam mimpinya.

Dari beberapa pengalaman teman sesama peruqyah keluhan seperti itu sering dijumpai bahkan ada yang sampai meninggalkan ruqyah karena dampak yang ditimbulkan dari meruqyah.

Berikut beberapa point mengapa seorang peruqyah bisa mengalami hal demikian yang mengakibatkan dampak negatif dari Ruqyahnya:


1. Kurangnya rasa percaya diri yang menimbulkan rasa ragu terhadap kekuasaan dan kebesan Alloh Jalla wa 'Alaa.
Hal ini bisa dgn cepat diketahui oleh jin yang mengganggu sehingga mereka bisa membalas peruqyah dgn sihirnya



2. Menjual Ayat-ayat Alloh.
Perlu diketahui bahwa meruqyah bukanlah suatu pekerjaan mencari nafkah



3.Beramal/Meruqyah Tanpa Bimbingan Guru



4. Membaca ayat ruqyah atau doa ruqyah dalam Keadaan Lalai




5.Belum meninggalkan dosa-dosa besar

dari beberapa pengalaman teman sesama peruqyah untuk sementara hanya 5 point ini yang dapat dirumuskan, namun masih banyak hal-hal yang dapat menyebabkan dampak buruk bagi peruqyah setelah meruqyah selain 5 point di atas. Untuk itu bagi teman-teman yang punya pengalaman bisa menambahkan beberapa point lagi mengenai hal ini untuk dipelajari bersama...



Ibnul Qoyyim mengatakan bahwa ''doa-doa, ta'awwudz bagaikan sebuah senjata.
Senjata yang bisa melumpuhkan bukan hanya dari ketajamannya saja.
Ketika terdapat sebuah senjata yang tajam tanpa aib, lalu tangan yang memegangnya pun begitu kuat dan tidak ada penghalangnya, maka pedang itu akan berhasil membunuh musuh.''

Kalimat Taammah (Kalimat Alloh yang SEMPURNA) Perisai Dari Segala Kejahatan Makhluq.

                    

Berikut ini adalah doa kalimat tammah (Kalimat yang SEMPURNA).

Untaian doa perlindungan kepada Alloh Ta'ala dari segala kejahatan makhluk-Nya.
Misalnya saat dalam perjalanan, belum sampai pada tujuan dan harus bermalam di suatu tempat.
Jika timbul rasa was-was dalam hati, khawatir akan keselamatan diri dan harta benda yang dibawa, maka bacalah Kalimat Tammah ini sebanyak-banyaknya (atau cukup 3 kali).
InsyaAllah, aman sentosa karena perlindungan Alloh Ta'ala.

Atau saat anda merasa takut terhadap gangguan JIN jahat, atau penampakan yang menyeramkan, maka bacalah Kalimat Tammah ini.
Insya Alloh, takkan datang marabahaya dari mereka.
Bahkan JIN dapat terbakar (dengan izin Alloh) bila tetap bermaksud mengganggu...


KALIMAT TAMMAH PERTAMA
أعوذبكلمات اللّه التّامّات من شرّ ماخلق
A’uudzu bikalimaatilaahit taammati min syarri maa kholaq.
Artinya : ''Aku berlindung dengan kalimat Alloh yang Maha Sempurna dari semua kejahatan makhluk yang dijadikanNya

KALIMAT TAMMAH KEDUA
أعوذبكلمات اللّه التّامّة من كلّ شيطان وهامّة ومن كلّ عين لامّة
A’uudzu bikalimaatillahit taammati min kulli syaithonin wa haam matin wa mingkulli ‘aiinin laammah.
Artinya : ''Aku berlindung dengan kalimat Alloh yang Maha Sempurna dari syaitan yang menggoda dan dari pandangan mata yang menyeramkan.''

KALIMAT TAMMAH KETIGA




A'uudzu biwajhillaahil kariim 
 Wa bikalimaatillaahit-taammaatil latii laa yujaawizuhunna barrun wa laa faajirun
min syarri maa yanzilu minas-samaa'i
Wa min syarri maa ya'ruju fiiha
Wa min syarri maa dzaro-a fiil ardhi
Wa min syarri ma yakhruju minhaa
Wa min fitanil laili wan nahaari
Wa min thowaariqil laili wan nahaari illa thooriqon
Yathruqu bikhoirin ya Rahmaan...
Artinya : ''Aku berlindung pada Wajah Tuhan Yang Maha Mulia dan (berpegang teguh) dengan kalimat-kalimat-NYA yang sempurna yang tidak dapat dipengaruhi oleh siapapun, baik orang yg taat maupun orang yg fasik, dari kejahatan yang turun dari langit dan kejahatan yang naik ke langit, kejahatan yang ada dimuka bumi dan kejahatan yang keluar dari bumi, kejahatan fitnah-fitnah dan peristiwa yang membawa akibat buruk yang terjadi siang dan malam, kecuali peristiwa yang membawa kebaikan, Ya Tuhan kami yang Maha Rahman (Pengasih).”
(Tulisan Arabnya lihat di foto yaa..)

Keterangan:

1.Kalimat yang sempurna : Kitab Al Qur'an yang berisi kalimat-kalimat sempurna dari Alloh.

2.Kejahatan yang turun dari langit : Bala', wabah, udara buruk, topan, petir, penyakit yang berterbangan di udara dan sebagainya.

3.Kejahatan yang naik ke langit : Catatan amal buruk yang dibawa naik oleh mailakat, iblis yang mencuri dengar berita dari langit, dsb.

4.Kejahatan yang terjadi dimuka bumi : gangguan setan jin dan manusia, binatang buas,dsb.

5.Kejahatan yang keluar dari bumi : Gempa bumi, gunung meletus, gas beracun, lumpur, binatang-binatang ganas yang keluar dari dalam bumi,dsb...

Riwayat :
Ketika Rasulullah SAW sedang dalam perjalanan israa', tercium olehnya bau harum, bau Masithah penyisir rambut anak Fir'aun.
Disitu Nabi SAW melihat Ifrit yang mengikuti dari belakang dengan obor api pembakar dan berusaha untuk membinasakan bliau.
Malaikat Jibril mengajarkan Kalimat Taammah untuk menghujam dan menghancurkan Ifrit tersebut.
Kalimat itu pun dibaca oleh Rasulullah SAW maka Ifrit tersungkur jatuh dan terbakar.(HR.Bukhari)

Sejarah Perdukunan Dari Masa Ke Masa..

                       


"Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu, dan kepada apa yang telah diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut. Padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan syetan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya." (QS. an-Nisa': 60).
Para ulama tafsir berbeda pendapat dalam memaknai kalimat "Thaghut" pada ayat di atas. Banyak di antara mereka memaknai thaghut itu dengan dukun. Di antara ulama tafsir yang memaknai thaghut dengan dukun adalah: Ibnu Abbas, Sa'id bin Jubair, Ikrimah, Abul ‘Aliyah, dan Imam Qatadah (Tafsir al-Qurthubi: 5/248). Jadi masyarakat pada zaman dahulu lebih suka untuk mendengar omongan dukun dalam menyelesaikan suatu masalah, dari pada kembali kepada wahyu yang telah diturunkan Allah melalui para rasul-Nya. 
Sejak dahulu, dukun sudah mendapatkan tempat di tengah kehidupan masyarakat. Tidak hanya pada zaman sekarang atau di zaman Rasulullah. Jauh sebelumnya pun, dukun sudah mempunyai peran di hati masyarakat yang menggandrunginya. Bagi mereka dukun adalah tempat untuk menyele­saikan masalah. Tempat untuk meminta saran dan pendapat. Tempat untuk menunjang keberhasilan dan kesuksesan yang mereka inginkan.

Dukun di Masa Nabi Musa 'alaihissalaam
Pada zaman Fir'aun misalnya. la melibatkan para dukun untuk menopang kelanggengan kekuasaannya. Fir'aun telah menjadikan para dukun ternama dan terhebat sebagai penasihat spiritualnya. Fir'aun dibuat kalang-kabut saat para dukun menafsirkan isi mimpinya.
Ibnu Abbas berkata, "Setelah Fir'aun bermimpi, pada pagi harinya Fir'aun mengumpulkan dukun-dukunnya. (Setelah mendengar isi mimpi Fir'aun), para dukun itu mengatakan, 'Pada tahun ini akan lahir seorang anak laki-laki, ia kelak akan menggulingkan kekuasaanmu”. Serta merta Fir'aun memutuskan bahwa setiap seribu wanita, harus dijaga seratus tentara. Setiap ada seratus wanita, dijaga sepuluh tentara. Setiap ada sepuluh wanita, harus dijaga seorang tentara. Lalu ia memerintahkan, 'Perhatikan dengan seksama setiap wanita hamil di wilayah ini. Apabila telah melahirkan, lihatlah. Kalau bayinya laki-laki, maka sembelihlah. Dan kalau bayinya perempuan, maka biarkanlah. (Tafsir Jami'ul Bayan: 1/272).
Saat menghadapi Nabi Musa, Fir'aun mengerahkan semua dukun dan tukang sihirnya. Dalam tafsir Ibnu Katsir disebutkan, jumlah dukun dan tukang sihir waktu itu mencapai 80.000 personil.

Jumlah yang sangat banyak itu dibagi menjadi empat kelompok. Masing-masing kelompok dipimpin dukun dan tukang sihir terhebat. Yaitu, Sabur, Adzur, Hath dan Mushaffa. Sungguh merupakan jumlah yang sangat banyak. Tapi dukun yang dimiliki Raja Persia lebih banyak lagi. Jumlahnya mencapai 360 orang. Itulah sebagian cara mereka untuk melanggengkan kekuasannya.

Dukun di Masa Nabi Yusuf 'alaihissalaam
Begitu juga raja yang memerintah pada zaman Nabi Yusuf. la menjadikan para dukun sebagai rujukan utama dalam menghadapi berbagai problema. Hanya saja para dukun raja waktu itu tidak mampu menafsirkan mimpi sang raja, saat ia bermimpi dengan mimpi yang cukup aneh (Lihat QS. Yusuf: 43-49). Mereka menganggap isi mimpi raja sangat ruwet untuk ditafsirkan, dan ada juga yang mengatakan bahwa mimpi sang raja hanyalah bunga tidur atau mimpi kosong tak punya arti. Akhirnya Nabi Yusuf-lah yang bisa menafsirkan mimpi sang raja itu.
Raja yang memerintah pada zaman Nabi Yusuf pada suatu malam bermimpi. Lalu ia mengumpulkan para dukun dan peramal, dan para pejabat teras kerajaan serta para pembesar. Lalu sang raja menceritakan mimpinya, setelah itu ia bertanya tentang arti mimpinya. Tapi tak satu pun yang hadir mengetahui secara persis arti mimpi itu. Bahkan kebanyakan mereka mengatakan bahwa itu hanyalah mimpi yang kacau dan sulit ditafsirkan. Pada saat itulah, seorang pemuda yang pernah satu sel dengan Nabi Yusuf ingat akan Nabi Yusuf. Padahal sebelumnya syetan telah membuatnya lupa. Lalu ia memberitahukan kepada sang raja bahwa ada orang yang bisa menafsiri mimpinya itu, dialah Nabi Yusuf. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir. 2/481)

Dukun di Masa Rasulullah, Muhammad shallallaahu 'alaihi wa sallam
Fenomena praktik perdukunan yang marak juga didapati pada masa Jahiliyyah, sebelum Muhammad diutus sebagai Nabi dan Rasul. Imam as-Suddi berkata, "Pada zaman Jahiliyyah banyak dukun-dukun. Apabila ada seseorang ingin melakukan perjalanan jauh, atau menikah, atau mewujudkan keinginan lainnya, ia mendatangi dukun. Lalu dukun itu memberinya mangkok. Kemudian mangkok itu dipukul, apabila keluar sesuatu yang menarik, maka ia pun meneruskan keinginannya. Tapi bila keluar sesuatu yang tidak disukai, maka ia pun membatalkan keinginannya. (Tafsir Jami'ul Bayan : 6/ 77).
"Para dukun banyak bertebaran di wilayah Arab, karena banyak manusia yang berhukum ke mereka ketika ada masalah. Saat mereka punya bayi, mereka mendatangi dukun untuk bertanya seputar masa depan sang anak. Pasar Ukazh yang terkenal saat itu banyak dipenuhi praktik perdukunan." (Lihat Kitab al-Mufashshal fi Tarikhil 'Arab  Qablal  Islam: 61/773).


Sebagaimana yang dinukil oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya, Imam al-Khatthabi berpendapat, "Praktik perdukunan merajalela dan menjamur di masa Jahiliyyah - khususnya di bangsa Arab - karena terputusnya risalah kenabian di kalangan mereka." (Fathul Bari: 10/ 217). Kalau kita membuka sejarah perdukunan di wilayah Rasulullah dilahirkan, maka akan kita temukan banyak nama-nama dukun yang hebat dan terkenal di kalangan mereka. Seperti Syaq dan Suthaih, Aus bin Rabi'ah, Nufail Ibnul 'Uzza, Sawad bin Qarib ad-Dausi, Ibnu Shayyad, Urwah bin Zaid al-Azdi, Haritsah, Juhainah dan masih banyak nama-nama lainnya. (Lihot Kitab al-Mufashshal fi Tarikhil 'Arab Qablal Islam: 6/ 360).

Dukun di Masa Sekarang
Pada zaman kita sekarang, praktik perdukunan juga banyak. Bukan karena terputusnya wahyu. Tetapi karena jauhnya masyarakat dari ajaran wahyu (Al-Qur'an), serta keengganan mereka untuk mempelajari dan mengamalkannya. Jumlah mereka jutaan, tersebar di seantero bumi nusantara ini. Ada seorang dukun ternama yang pernah menyampaikan ke sebuah majalah ternama, bahwa Jumlah personil dukun yang bernaung dalam kelompoknya berjumlah lebih dari 13 juta personil. Itu hanya satu paguyuban, belum lagi paguyuban dan kelolmpok lainnya yang tidak dibawah naungannya.

Tidak semua dukun yang membuka praktik perdukunan benar-benar seorang dukun. Tidak semua dukun dibantu oleh jin dalam praktiknya. Tidak semua dukun menguasai ilmu-ilmu mistik atau supranatural. Di antara mereka banyak juga yang hanya modal nekat. Karena susah cari pekerjaan atau sulit mencari penghasilan, akhirnya dengan intrik dan rekayasa serta trik tersembunyi mereka membuka praktik perdukunan.
Imam al-Khatthabi mengklasifikasikan praktik perdu­kunan yang ada pada zaman Rasulullah menjadi empat bagian. Pertama, dukun yang berkolaborasi dengan jin. Dalam praktiknya, dukun tersebut selalu mendapatkan pasokan berita dari jin yang telah mencuri kabar dari langit, ada kerjasama dan keterikatan antara keduanya. Kedua, dukun yang terkadang saja dibantu oleh jin. Jin datang untuk mendikte dan menyetirnya. Ketiga, dukun yang bersandar kepada tebakan, perkiraan dan sangkaan. Keempat, dukun yang praktiknya bersandar pada pengalaman dan kebiasaan semata. la mengaitkan masalah yang ada dengan masalah serupa yang telah terjadi atau telah dialaminya. (Fathul Bari: 10/218).

KH. Abdul Wachid yang pernah terjun dalam praktik perdukunan, dan sekarang terus aktif memberantas praktik perdukunan, mendakwahi para pelaku pedukunan yang masih aktif membuka praktik, ternyata ia menemukan tipe-tipe dukun yang diklasifikasikan oleh Imam al-Khatthabi. Tidak semua dukun mempunyai kekuatan mistik. Dan yang paling banyak adalah mereka yang menggunakan intrik.

Menurut pengalaman dan hasil survei Gus Wachid seputar praktik perdukunan yang ada di Indonesia, dukun-dukun yang ada itu ada tiga macam:

1. Dukun yang bisa menguasai jin.
Gus Wachid berkata, "Saya pernah seperti itu. Jin itu bisa saya perintah. Dengan ilmu 'karamah' yang saya punya. Dengan konsentrasi penuh, kita mendatangkannya, kemudian kita bisa memerintahnya. Tapi luar biasa lelahnya setelah ritual itu selesai. Terkadang saya gunakan cara ini untuk mengobati orang yang terkena jin. Jadi saya gunakan jin untuk mengusir jin atau untuk mengetahui sebenarnya apa yang diinginkan oleh jin yang masuk dalam jasad orang itu.

2. Dukun yang dikendalikan jin.
Kata Gus Wachid, "Ciri kategori ini, biasanya yang bersangkutan harus kesurupan dulu dan itu bisa dikenali dengan suaranya yang berubah. Saya sempat akrab dengan orang-orang seperti itu. Saya pernah kemalingan, saya berusaha mencarinya tetapi tidak ketemu. Akhirnya saya pernah minta bantuan orang yang mempunyai kemampuan kategori kedua ini, di saat saya kehilangan mesin ketik.

3. Dukun yang tidak bisa apa-apa.
Mereka bisanya hanya goroh, gedabrus thok (hanya penipu, pembual). Gus Wachid berkata,"Wallahi, dukun kategori inilah yang paling banyak. Saya bisa mengetahuinya, karena kalau ada orang yang mengaku sakti, langsung saya cek dengan kekuatan 'karamah' yang pernah saya pelajari. (Sambil membuka telapak tangan di hadapkan ke orang yang dituju seraya baca wiridnya. Dan saya akanmerasakan seperti kesetrum jika ada isinya)".
Dukun kategori manapun, kita dilarang oleh Rasulullah untuk mendatanginya, bertanya kepadanya, apalagi membenarkan apa yang dikatakannya. Baik itu dukun mistik maupun dukun intrik. "Barangsiapa yang mendatangi dukun atau peramal, ialu membenarkan apa yang dikatakannya. Maka ia telah kufur terhadap apa yang telah diturunkankepada Muhammad (al-Qur'an dan al-Hadits)."
(HR. Ahmad dan dishahihkan al-Albani).


PENGENALAN QURANIC HEALING (PENGOBATAN/PENYEMBUHAN QUR'ANI)

                    

Apakah Penyembuhan Qur’ani (Quranic Healing) itu?

Penyembuhan atau Pengobatan Qur`ani hakikatnya adalah sebentuk  do`a. Ia berupa kumpulan ayat-ayat Al Qur`an ataupun do`a do`a  serta selawat  yang diajarkan  syariat yang diharapkan menjadi upaya kesembuhan dari berbagai gangguan dan penyakit. Dalam berbagai hadits disebutkan bawa :

Do`a adalah senjata bagi orang beriman, sebagai tiang agama, serta cahaya bagi langit dan bumi “[1]
Do`a bermanfaat bagi apa yang sudah terjadi maupun yang belum terjadi. Oleh sebab itu, hendaklah kalian selalu berdoa  “  [2]

Rajin berdo`a adalah obat yang paling mujarab.
Janganlah kalian lemah dalam berdoa, sebab seseorang tidak akan binasa bersama do`a “ [3]                    
Allah tidak menurunkan suatu penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya“ [4]                                   
Setiap penyakit ada obatnya, maka bila obat yang dikonsumsi cocok, niscaya ia akan sembuh dengan izin Allah “ [5]
Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali Dia juga menurunkan obatnya, diketahui (dimengerti) oleh orang yang mengetahuinya, dan yang tidak dimengerti oleh sebagian orang” [6]
Dan juga firman Allah :
Dan kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman "( Al isra :82)

Mengapa Banyak Orang Yang Tidak Yakin dengan Metode Terapi Al-Quran?
Banyaknya orang yang tidak yakin dengan pengobatan Al Qur’an (Quranic Healing) adalah karena belum adanya landasan dan fakta ilmiyah tentang hal ilmu pengobatan dengan Al Qur’an. Misalnya, mungkin muncul pertanyaan : Ketika pasien mendengarkan Al Qur’an, apa yang terjadi dalam tubuh pasien tersebut secara detail yang bisa menghantarkannya pada kesembuhan? Untuk menjawab pertanyaan seperti ini, kita harus menjawab terlebih dahulu pertanyaan “Apa yang dimaksud dengan pengobatan atau Terapi Al Qur’an (Quranic healing Technique)?
Quranic Healing Technique (Tehnik Penyembuhan Qur’ani) adalah Ilmu dan Seni Penyembuhan, Pembentengan dan Perlawanan dari  Penyakit Fisik, Psikis, Gangguan Jin, Serangan Sihir dan Segala Mara Bahaya dengan Mendayagunakan Kekuatan Doa dari Al-Qur’an dan Sunnah (energi Ruqyah) yang Dikembangkan dari Tekhnik yang Sudah Dicontohkan Rasulullah Sholallahu 'alaihi Wassalam.

Bentuk Pengobatan atau Terapi Al Qur’an (Quranic Healing Technique) adalah membacakan ayat-ayat Al Qur’an dan doa-doa yang ma’tsur (diajarkan oleh Rasulullah saw) kepada diri sendiri atau orang lain/ pasien dengan Metode Sentuhan (Healing Touch), Metode Usapan / Sapuan, Metode Tepukan/Ketukan (Tapping), Metode Pijatan, Metode Hembusan Nafas/ Tiupan . Hal itu diulangi beberapa kali sampai terjadi proses penyembuhan (Insya Allah). Jadi, hal yang mempengaruhi diri sendiri maupun pasien adalah membaca Al Qur’an. Pembacaan Al Qur’an terdiri dari tiga hal, pertama suara bacaan Al Qur’an yang keluar melalui terapis yang membacakannya atau si pasien langsung yang membacanya atau secara tidak langsung yaitu menggunakan rekaman suara yang didengarkan melalui peralatan modern (Audio Visual).  

Pengobatan Qur`ani menjembatani jarak antara TEOLOGI-SAINS-METAFISIKA
Konsep-konsep keagamaan & filsafat hanyalah barometer yang membimbing kita, tidak peduli dimanapun kita dilahirkan TUHAN telah menyediakan kita dengan barometer-barometer tersebut. Semua agama mengatakan hal yang sama bahwa TERDAPAT SESUATU “DI LUAR ” PENGETAHUAN MANUSIA.

Sains – telah membuktikan bahwa Ketakutan, kecemasan, Kekuatiran dan Depresi adalah penyebab munculnya penyakit. Kesalahan serius dalam pikiran bisa menyeret kepada penyakit.

Ayat-ayat Alqur`an yang digunakan dalam pengobatan adalah unsur unsur Metafisika yang akan secara langsung terhubung dengan pusat otak, karena yang memproses fungsi-fungsi non verbal dan emosional adalah bagian otak. Ayat-ayat itu dapat melakukan penyembuhan emosional dan entah bagaimana bahkan meningkatkan kesadaran spritual. Ayat-ayat penyembuh Alquran memiliki suatu keistimewaan yang tidak ditemukan dalam obat-obat kimia, yang hanya diciptakan oleh Allah swt, bukan dibuat di laboratorium. Dalam proses penyembuhan Ayat-ayat tersebut akan membangkitkan energi spiritual yang mampu menyembuhkan rasa sakit, kesedihan dan kegagalan.

Sayangnya ketika kita membicarakan pengobatan qur’ani (Quranic Healing) maka masih banyak orang yang membayangkan pengobatan secara supranatural dengan kekuatan hipnotis dengan efek placebo yang sudah keluar dari kaedah agama ( musyrik ). Kesembuhan dapat terjadi melalui banyak cara- Sebagian baru saja kita pahami (sudah teruji dan diteliti secara ilmiah) – Lainnya baru akan kita pahami dan Sisanya tetap belum terungkap.
Kesembuhan yang belum terungkap adalah rahmat Allah swt. yang misterius, tidak bisa dipecahkan dengan “bagaimana” atau “mengapa” tapi untuk direngkuh dan disyukuri kewujudannya.

Apa tujuan dan manfaat Pengobatan Qur`ani ?
  1. Membantu memberikan jalan keluar yang Islami kepada orang-orang yang sedang mengalami permasalahan hidup, baik berupa penyakit Alamiah maupun penyakit akibat Sihir agar terhindar dan terlepas dari tipu daya syaitan ( Talbis syaiton ) berupa khurafat dan bid`ah dhalalah.
  2. Mengajak orang-orang yang belum mengetahui jalan syariat diantara saudara-saudara kita agar menyelesaikan masalahnya secara cerdas dengan kembali kepada Al-Qur`an yang dapat melindungi seseorang dari hal-hal negatif yang mengancam.
  3. Menyelesaikan masalah dengan tidak menimbulkan masalah baru berupa Fitnah yang menimpa hati berupa Fitnah syahwat dan subhat, Fitnah kesalahan dan kesesatan, Fitnah maksiat dan Bid`ah, Fitnah kezoliman dan kebodohan yang mengakibatkan rusaknya Ilmu, pandangan, pengetahuan dan Keyakinan kepada Allah swt.
Mengapa harus Pengobatan Qur`ani ?
Imam Ibnul Qayyim al Jauzi, semoga Allah merahmatinya mengatakan,” Al Qur`an adalah obat penyembuh yang paling sempurna bagi semua penyakit jiwa dan raga, serta penyakit dunia dan akhirat. Tapi tidak setiap orang layak mendapat taufik dari Allah untuk melakukan pengobatan dengan Al Qur`an ! namun jika orang yang sakit mengobati penyakitnya dengan Al Qur`an dengan penuh keimanan dan kesungguhan hati, penyerahan total kepada Allah, keyakinan yang penuh menyeluruh,serta memenuhi semua persyaratan yang lainnya, niscaya tidak pernah ada penyakit yang mampu mengalahkannya”,…………demikian pendapat Ulama besar tersebut tentang manfaat ayat-ayat AlQur`an.
Kita telah membuang begitu banyak harta kita untuk menyembuhkan berbagai penyakit phisik dan jiwa kita ke  berbagai macam rumah sakit dan klinik di dalam maupun di luar negri. Tapi sedikit  diantara kita berpikir untuk melakukan usaha lain selain usaha medis itu yang boleh jadi  justru merupakan sarana penyembuh yang paling hakiki yang hanya membutuhkan sedikit waktu dan tenaga.

Bagaimana bisa Al Qur`an menjadi penyembuh terhadap tubuh manusia ?
Dalilnya adalah seperti yang dijelaskan oleh  firman Allah dalam Al Qur`an surat Al Isra`: 82 yang berbunyi:
Dan kami turunkan dari Al Qur`an suatu yang menjadi Penawar dan Rahmat bagi orang-orang yang beriman…“
Kata Min dalam ayat Al Qur`an tersebut merupakan penjelasan tentang jenis sehingga ia berarti bahwa Al Qur`an itu seluruhnya merupakan obat penyembuh.

Jadi Al Qur`an adalah Obat, bisa sebagai penyembuh. Salah satu buktinya adalah sebuah riwayat dari  Imam Bukhori bahwa salah seorang sahabat Nabi saw bernama Abu said Al Qudri membacakan surat Al Fatihah ( Ummul Qur`an) kepada seseorang yang digigit ular dan ternyata pulih kesehatannya.

Penjelasan :
Perhatikan, Al Fatihah terdiri dari 7 ayat. Bukankah seperti yang kita kenal secara empiris bahwa angka 7 banyak mewakili hal-hal yang kita kenal sehari-hari, sebagai contoh : 7 keajaiban dunia, 7 warna pelangi , 7 lapis langit, 7 lapis kulit bumi, 7 hari, 7 tangga nada , ph 7 dan sebagainya. Jadi dengan membaca 7 ayat Al Fatihah sama dengan mengeluarkan 7 nada “SUARA“   ayat-ayat suci Allah berupa “ GELOMBANG “ yang mengandung ayat-ayat suci yang menghasilkan sesuatu “ ENERGI “ penyembuhan dari ayat-ayat suci   yang diperlukan tubuh  dalam keadaan tidak setimbang.

Skema :  SUARA (AlQur`an) -> GELOMBANG ( Ilahiyah) -> ENERGI (Penyembuhan).
Disini terjadi terapi bioelektrik + bioheat, yang bisa dipancarkan melalui tangan ( jari-jari / telapak tangan ), atau berupa vocal-suara atau dengan pikiran ( gelombang otak ). Gelombang energi tersebut akan menembus ruang dan waktu menuju sasaran jauh atau dekat. Gelombang-gelombang tersebut menembus tubuh dan menyebabkan normalisasi (kondisi setimbang) kimia di dalam tubuh ( Ph =7), sehingga tubuh menjadi sehat kembali. Suatu kesetimbangan “ kimiawi “ secara proses faal anatomi dan kejiwaan.

Apa  Pengaruh Al-Qur`an terhadap organ tubuh ? Terus apa bisa diukur?
Secara medis telah dinyatakan bahwa tegang dan cemas bisa mengarah kepada pengurangan ( defisiensi ) kekebalan tubuh manusia  terhadap  penyakit. Semakin tidak stabil ( tidak setimbang ) kondisi kejiwaan dan kegelisahan seseorang, maka semakin terbuka peluang / rentan orang tersebut  terserang penyakit. Pengaruh Al-Qur`an adalah mengembalikan ketidaksetimbangan tersebut hingga mengarah kepada peningkatan system  kekebalan dan daya tahan tubuh terhadap penyakit. Tubuh menjadi sehat dan  kuat terhadap serangan penyakit.

Dr. Ahmed El Kadi di  Missouri, USA melakukan riset terhadap pengaruh AlQur`an terhadap tubuh manusia. Penelitian dan pengukuran ini dilakukan terhadap 3 kelompok manusia:
  1. Muslim yang bisa berbahasa Arab.
  2. Muslim yang tidak bisa berbahasa Arab
  3. Non-Muslim yang tidak bisa berbahasa Arab.
Pengaruh ini diukur dan dicatat dengan menggunakan seperangkat peralatan elektronik perangkat studi dan evaluasi terhadap tekanan syaraf yang ditambah dengan komputer jenis Medax 2002 (Medical Data Exuizin) yang ditemukan dan dikembangkan oleh Pusat Studi Kesehatan Univ. Boston dan Perusahaan Dafikon di Boston.
Perangkat ini mengevaluasi respon-respon perbuatan yang menunjukkan adanya ketegangan melalui salah satu dari dua hal:
  1. Perubahan gerak nafas secara langsung melalui komputer,  dan
  2. Pengawasan melalui alat evaluasi perubahan-perubahan fisiologis pada tubuh.
Pada semua kelompok responden tersebut dibacakan sepotong ayat Al-Qur’an dalam bahasa Arab dan kemudian dibacakan terjemahnya dalam bahasa Inggris.Dan pada setiap kelompok ini diperoleh data adanya dampak yang bisa ditunjukkan tentang Al-Qur’an, yaitu 97% percobaan berhasil menemukan perubahan dampak tersebut. Dan dampak ini terlihat pada perubahan fisiologis yang ditunjukkan oleh menurunnya kadar tekanan pada syaraf secara spontanitas. Ini terlihat pada perubahan energi listrik pada otot-otot pada organ tubuh. Dan perubah-perubahan yang terjadi pada kulit karena energi listrik, dan perubahan pada peredaran darah, perubahan detak jantung, volume darah mengalir pada kulit, dan suhu badan. Dan semua perubahan ini menunjukan bahwasanya ada perubahan pada organ-organ syaraf otak secara langsung dan sekaligus mempengaruhi organ tubuh lainnya.

Jadi dari riset yang dilakukan oleh Dr. Ahmed El Kadi ternyata diketahui pengaruh Al Qur`an bisa diukur dan bisa  menurunkan ketegangan syaraf yang akan menyebabkan seluruh badannya akan segar kembali, stamina tubuh membaik dan akan menghalau berbagai penyakit atau mengobatinya.

Terus, Sampai dimana jangkauan Pengobatan Qur`ani ini ?
Jawabannya :Sangat luas. Selain untuk penyembuhan berbagai penyakit Medis dan Non medis ,juga bertujuan untuk menolak bala sebelum terjadi dan melindungi orang-orang dari bahaya yang mengancam.

Kemudian, sejauh mana tingkat kerberhasilannya ?

Jawaban : Relatif, tergantung pada tingkat keyakinan si pelaku, baik si sakit atau si penyembuh selama proses penyembuhan itu. Jika si sakit tidak layak menerima penyembuhan dan si Penyembuh tidak mampu memberikan pengaruh apa-apa maka kesembuhan tidak akan terjadi.
Kesembuhan hanya akan terjadi bila :
  1.  Ada kesesuaian obat dengan penyakit.
  2.  Kesungguhan orang yang mengobati dan orang yang diobati bisa menerimanya.
Penyakit dan kasus apa saja yang sudah berhasil disembuhkan ?
Berdasarkan pengalaman yang ditemui, Terapist banyak menangani kasus-kasus penyakit pasien yang sudah hopeless tidak bisa diobati lagi oleh Paramedis dan sudah banyak membuang begitu banyak harta, tenaga dan waktu untuk menyembuhkan  penyakitnya  ke  berbagai macam rumah sakit dan klinik di dalam maupun di luar negri.
Penyakit / keluhan yang berhasil diobati berdasarkan pengakuan dari para penderita ,misalnya;
  1. Infeksi saluran kencing, keluhan sering buang air kecil setiap malam,sampai 20 x dalam semalam.
  2. Gejala stroke, keluhantangan sakit, badan lumpuh sebelah.
  3. Sering muntah-muntah, padahal sudah berobat ke RS.
  4. Sakit jantung, Jalan enggak kuat, nafas pendek, kaki bengkak-bengkak.
  5. Vertigo yang tidak kunjung sembuh walau sudah berobat ke dokter spesialis.
  6. Sesak nafas dan badan pegel yang tidak kunjung sembuh.
  7. Tidak bisa menstruasi lagi  padahal umur masih muda belia.
  8. Sakit gigi terus, padahal sudah ke dokter gigi.
  9. Sering sakit-sakitan tanpa sebab, padahal sudah ke dokter.
  10. Luka  operasi yang tidak sembuh-sembuh.
  11. Termasuk penyakit-penyakit yang secara uji klinis medis tidak bisa dijelaskan.
  12. Dan lain-lain.
Apakah Pengobatan Qur`ani hanya terbatas pada kelompok Muslim saja?
Jawab : Penyembuhan ini tidak terbatas pada satu kelompok tertentu ( Muslim) saja,tapi untuk segenap manusia yang memerlukan manfaatnya. Hal ini sudah dibuktikan dengan hasil penelitian dari Dr. Ahmed El Kadi terhadap kelompok responden Muslim dan Non-Muslim. Juga  sesuai dengan firman Allah dalam AlQur`an surat Yunus : 57
“Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit  ( yang berada) dalam dada… “

Pengobatan Qur`ani bisa dibarengi dengan pengobatan kedokteran modern ?
Dari beberapa pengalaman praktik dan keterangan dari beberapa tulisan para ahli diketahui bahwa Kedokteran modern dengan berbagai cabangnya dan do`a (Pengobatan Qur`ani ) adalah pasangan sarana yang ampuh untuk  menyembuhkan tubuh, intelek dan jiwa manusia. Kondisi tubuh, intelek dan jiwa manusia saling berkaitan dan menjadi pusat kepuasan hidup.

Dunia pengobatan sedang berjalan kepada asalnya, yakni pengobatan yang holistik, yang menyembuhkan manusia sebagai insan yang utuh, tidak terbelah-belah. Manusia modern yang terpecah antara jasad material dengan ruhani yang spiritual akhirnya menemukan momentum untuk menyatukan kedua sisi ini, setelah berabad penjarakan yang menyiksa. Pun dunia kedokteran, harus mulai membuat dunianya lebih utuh, memandang manusia bukan lagi seonggok jasad wadag dengan instrumen organ, jaringan dan sel yang hidup karena aktifitas kelistrikan yang fisikal, enzim dan hormon yang kimiawi semata. Lihatlah lebih utuh, bahwa manusia adalah sesuatu yang hebat yang dikaruniai Allah jasad, ruh dan akal.

Salah satu kecenderungan baik ini saya lihat dalam tulisan Larry Dossey,MD seorang dokter Amerika yang sedang mengembangkan perspektif kedokteran yang lebih luas dari sekedar kamar operasi dan kapsul farmasi. Seperti pada umumnya dokter yang mengenyam pendidikan kedokteran sekuler, pada awalnya ia menganggap bahwa doa tak ubahnya tahayul. namun setelah berpuluh tahun praktik dan meneliti, ia tiba pada sebuah kesimpulan yang mengubah pandangannya itu, bahwa secara ilmiah doa memiliki kekuatan menyembuhkan. Ia kemudian menulis buku yang terkenal itu: "The Healing Words" (Kata-kata yang Menyembuhkan) yang pada kata pengantarnya ia katakan bahwa dengan memasukkan seni penyembuhan yang memperhatikan segi spiritual ke dalam dunia kedokteran, buku ini akan membuka jalan menuju suatu ilmu kedokteran yang lebih efektif dan manusiawi.

Boleh saja kalangan dokter yang lain meremehkan statemen ini, dengan berpendapat bahwa penelitian -penelitian yang dilakukan untuk menunjukkan manfaat doa itu metodologinya payah, rancangan dan pengamatannya jelek sehingga hasilnya pun ecek-ecek. Tapi coba simak dulu fakta ini: Hingga tahun 1993 para peneliti telah melakukan studi terkontrol sebanyak 131 bahkan dengan rancangan penelitian terakurat: Double Blind Randomized Control Trial. Lima puluh enam kajian ini memperlihatkan hasil-hasil yang signifikan secara statistik pada p, sedangkan 21 studi memperlihatkan signifikansi p

Masaru Emoto dalam bukunya The True Power of Water membuktikan sekali lagi secara ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan betapa kata-kata yang baik mampu merubah bentuk molekul air yang semula berantakan menjadi kristal hexagonal yang indah, dan sebaliknya kata-kata negatif membuat bentuk yang buruk. Secara hipotetik sangat mungkin tubuh manusia yang antara 80 - 90 % nya adalah air memiliki respon terhadap kata-kata. Dan kita sangat berhak untuk membuktikannya.

Agaknya para dokter harus membuka mata dan memberikan ruang bagi doa untuk menyembuhkan pasiennya. Jadi, tak usah segan untuk mendoakan pasien dan yang lebih penting adalah memotivasi pasien untuk mengerahkan kekayaan penyembuhan yang telah ia miliki, ialah do'a. Berilah senyum yang menyembuhkan, dan kata-kata yang menyembuhkan. Sebuah wajah dari cinta. Wallahu a'lam.

[1]  HR Hakim no.1812
[2]  HR Hakim no.1815
[3]  HR Hakim 1818
[4]  HR Bukhari no.5678
[5]  HR Muslim no.2204
[6] ( HR Ahmad no.17988 )



Hubungan Jenis-Jenis Jin dan Kepribadian Manusia

Oleh: Ustadz Abu Irbah Ariffuddin, S.Ag.

(Artikel Pernah Dimuat Pada Majalah al-Umm Edisi V Tahun I, Maret 2013)

Para pembaca budiman yang dirahmati oleh Allah subhanahu wa ta’ala, pada kesempatan kali ini akan kami uraikan hubungan berbagai jenis jin dengan psikologi dan kepribadian manusia Satu tema yang mungkin tidak sedikit di antara kita kaget dan tersentak, apa betul pengaruh jin bisa sampai sejauh itu? Hal ini seharusnya tidak perlu menjadikan kita heran, karena Allah subhanahu wa ta’ala telah menyatakan di dalam Al-Qur’an surat Zukhruf 36:

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَنًا فَهُوَ لَهُ قَرِيْنٌ

Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan Ar-Rohman, Kami akan ikatkan padanya syaitan, maka syaitanlah yang akan menjadi pendampingnya.”

Dari ayat ini kita dapatkan pengertian yang paling sederhana bahwa jika seseorang berpaling dan tidak mau taat kepada Allah subhanahu wa ta’ala, maka Allah akan menjadikan syetan sebagai inspirator keburukan, selanjutnya akan menjadikan hal itu sebagai kebiasaan dalam semua sisi kehidupannya. Secara otomatis ketika inspirasirnya dari setan maka dari semua sisi kehidupannya adalah buah dari inpirasi-inspirasi syetan. Walhasil, kita bisa menyimpulkan akan adanya pengaruh pada karakter dan kepribadian buruk yang berhasil ditanamkan syetan pada diri manusia tersebut.

Di sisi yang lain Syekh Wahid Abdus Salam Bali dalam kitabnya Wiqayatul Insan minal Jinn wasy-Syaithanmenyebutkan mengenai pembagian jenis-jenis jin, merujuk pada hadist Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallamyang berbunyi:

الجِنُّ على ثَلَاثَةِ أَصْنَافٍ صِنْفٌ لَهُمْ أَجْنِحَةٌ يَطِيرُونَ في الهَوَاءِ وَصِنْفٌ حَيَّاتٌ وَكِلَابٌ وَصِنْفٌ يَحِلُّوْنَ وَيَظْعَنُوْنَ 

“Jin itu ada tiga jenis: jenis yang memiliki sayap dan terbang di udara, jenis ular dan anjing, dan jenis menetap dan berpindah-pindah.” (H.R. Thabrani, al-Hakim dan Baihaqi di dalam Al- Asma’wash Shifat, dengan sanad shahih. Shahibul Jami’, 3 85)

Berdasarkan hadist di atas maka jenis-jenis jin dibagi dalam tiga jenis, yaitu (1) jenis jin yang mempunyai sayap dan terbang di udara, (2) jenis jin ular dan anjing (anjing hitam), dalam jelmaan maupun bentuk nyata dan (3) jenis jin menetap dan pindah-pindah. Sehingga jika kita hubungkan antara ayat dan hadist di atas serta data di lapangan dalam proses ruqyah maka kita akan dapatkan sejumlah besar pemahaman sebagai berikut:

1. Jenis jin yang mempunyai sayap dan bisa terbang
Jenis jin ini mayoritas mendatangi dan mengganggu mereka yang suka belajar ilmu kanuragan, kesaktian, ilmu kekebalan, tenaga dalam, dan mereka yang belajar ilmu thoriqot, tasawuf, para dukun, paranormal, tukang sihir dan sebagainya. Ciri-ciri mereka yang dimasuki oleh jenis jin terbang ini adalah mereka yang memiliki karakter dan kepribadian serta kebiasan bisa menebak, meramal, membaca pikiran orang, membaca masa depan, mereka suka memutar balikkan fakta alias pembohong, suka mengadu domba, mempunyai sifat pendengki, licik, sombong, suka merasa tidak puas, suka tantangan, mengidap megalomenia, meremehkan syariat dan lain-lain.
Dan terhadap dunia thoriqot dan tasawuf yang salah, jenis jin inilah yang memperdaya mereka dengan cerita fantastiknya bak supermen yang bisa terbang; yang katanya bisa terbang kemana-mana, bisa terbang dan shalat Jumat di Makkah atau ngrogo sukmo seperti film Naruto yang menggandakan diri. Cerita-cerita senada seperti ini banyak beredar di kalangan mereka yang diklaim dengan wali dengan karomahnya. Meskipun ahli sunnah juga meyakini karomah itu haq adanya, tetapi bukan dengan konsep yang salah seperti mereka.
Jenis jin ini apabila berada dalam tubuh manusia akan memberikan respon terhadap kepribadiannya. Jiwanya yang cenderung tidak stabil (proses jaddab, fana, maghlub), suka suuzh-zhan terhadap orang, tidak suka melihat orang lain bahagia, dan berbagai penyakit hati lainnya. Mereka cenderung gelap jiwanya, sehingga kurang bisa menerima kebenaran/ sulit menerima kebenaran. Dan jika harus berada pada proses ruqyah biasanya pasien akan mengalami dirinya terangkat seolah-olah akan terbang.Terkadang jenis jin ini juga berada pada mereka yang terkena jenis gangguan jin turunan. (Jenis gangguan jin yang menimpa seseorang akibat dari bapak atau mbahnya yang dulunya punya ilmu kesaktian atau juga dulunya seorang dukun). Bisa dibayangkan betapa banyak orang yang tertipu dengan jenis jin ini.

2. Jenis jin yang berpindah-pindah dan menetap
Jenis jin yang berpindah–pindah ini kecenderungan memasuki dan menyukai manusia yang memiliki kepribadian bosanan, eksplosif, temperamen, emosional, cenderung berpikir pendek. Jika memiliki keinginan, inginnya cepat terpenuhi, idak tenang, mudah jenuh, bosanan, mudah mengumpat, gampang mencela, sulit menyembunyikan ekspresi hatinya, cenderung rasional, ilmu agama sedikit, dan lemah iman. Manusia yang kemasukan jenis ini dengan berbagai karakter pribadi tersebut di atas akan semakin ekstrim yang pada ujungnya akan menjadikan dirinya gampang marah, emosional, temperamen, gampang stres, depresi dan akhirnya gila. Dan jika gila maka akan keluar dari rumahnya, terus berjalan tanpa arah, sesekali diam menetap dan untuk kemudian pergi jalan lagi tanpa tujuan (bahasa Jawanya: nglutus atau ngluyur).
Sedangkan jenis jin yang menetap, kecenderungan suka memasuki orang yang memiliki kepribadian menutup diri, sulit bergaul, minderan, bersifat introphet, perasa, lemah jiwa, pesimistis, sering mengurung diri jika ada masalah, peragu, sering bimbang, mudah sedih, mudah was-was, mudah putus asa. Jenis jin ini jika masuk pada diri seseorang dengan ciri-ciri karakter pribadi tersebut akan menjadikan berbagai sifat dan karakter serta pribadi yang tidak baik tersebut di atas akan semakin ekstrim. Sehingga akan semakin menutup diri, mengganggap orang lain tidak ada yang tahu tentang dirinya, menganggap mereka musuhnya, asyik dengan bisikan jinnya. Jika semakin parah akan senyum sendiri, ketawa sendiri, dan dikuasai jin dengan hanya mengurung diri, tidak keluar kamar yang gelap kecuali hajatnya, bahkan jika parah akan BAB dan BAK di kamarnya sehingga jadilah ia pada saat itu dikatakan kesurupan dan gila.
Kedua jenis jin di atas dengan spesifikasi karakter pribadi manusia yang disukainya, terkadang masuk bersamaan ke dalam diri satu individu sekaligus sehingga memberikan dampak yang terkadang dia ngluyur, berjalan tanpa arah dan tujuan, akan tetapi sekali tempo dia juga pulang dan mengurung diri, mengunci kamarnya yang gelap, kotor, dan pengap.
Dan terkadang pula dalam waktu bersamaan berbagai jenis jin terbang, menetap dan berpindah-pindah ada pada diri seseorang dengan karakter dan kepribadian serta sifat–sifat yang mencakup seluruh atau sebagian besar dari karakter, kepribadian dan sifat tersebut di atas. Contoh individu yang mewakili kasus ini adalah mereka yang profesinya sebagai dukun.

3. Adapun jenis yang ketiga yaitu jenis ular dan anjing
Jika  kita merujuk pada kitab wiqoyatul insan karya Syekh Wahid Abdus Salam Bali itu adalah bentuk aslinya. Yakni bentuk nyata dari penjelmaan (bisa dilihat dan disentuh) bukan bentuk pecitraan, yaitu jenis jin ular yang berwarna hitam dan anjing yang berwarna hitam. Hal ini dapat dijelaskan di dalam manaqibusy Sayafi’i dengan sanadnya dari ar Rabi’ yang diriwayatkan oleh Baihaqi, Al Hafizh menyatakan, Aku mendengar Syafi’i berkata: “Barangsiapa yang mengaku melihat jin maka kami batalkan syahadatnya kecuali Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam”. Ibnu Hajar Asqolani1 menyatakan hal ini berlaku bagi mereka yang mengaku melihat jin dalam bentuk aslinya. Sedangkan orang yang mengaku melihat jin setelah menyerupai beberapa bentuk binatang maka tidak dapat dibantah karena berita-berita tentang penyerupaan mereka sudah mutawatir (banyak).
Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam:

«الْحَيَّاتُ مَسْخُ الْجِنِّ كَمَا مُسِخَتِ الْقِرَدَةُ، وَالْخَنَازِيرُ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ»

Ular adalah jadian jin sebagaimana kera dan babi adalah jadian dari bani Israil”2

Ada juga hadist yang diriwayatkan dari Abu Qilabah dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ia berkata:

«لَوْلَا أَنَّ الْكِلَابَ أُمَّةٌ مِنَ الْأُمَمِ لَأَمَرْتُ بِقَتْلِهَا، فَاقْتُلُوا مِنْهَا الْأَسْوَدَ الْبَهِيمَ»
لَوْلاَ أَنَّ الْكِلاَبَ أُمِّةٌ لَأَمَرْتُ بِقَتْلِهَا وَلَكِنْ خِفْتُ اَنْ اَبِيْدَ اُمَّةً فَاقْتُلُوا مِنْهَا كُلَّ اَسْوَدَ بَهِيْمٍ فَاِنّهُ جِنُّهَا اَوْ مِنْ جِنِّهَا

“Sekiranya anjing itu bukan satu ummat niscaya aku memerintahkan pembunuhannya tetapi aku takut memusnahkan satu ummat, karena itu bunuhlah setiap binatang hitam diantaranya sebab dia adalah jinnya atau dari jinnya.”3

Terdapat juga di dalam shohih Muslim hadits dari Abu Dzar, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian berdiri shalat maka (hendaklah) dia membatasinya dengan sutrah (pembatas) jika dihadapannya ada seperti ekor binatang, jika tidak ada dihadapannya seperti ekor binatang maka sesungguhnya shalatnya bisa batal karena keledai, wanita dan anjing hitam”, saya bertanya “Wahai Abu Dzar, mengapalah anjing hitam dibedakan dari anjing merah atau anjing kuning segala? Ia menjawab:”Wahai anak saudaraku, saya bertanya kepada Rasulullah sebagaimana kamu bertanya kepadaku lalu beliau bersabda: “Anjing hitam adalah Syetan”.

Ibnu Taimiyyah menyatakan bahwa anjing hitam dalam hadits di atas syetan anjing dan jin, dia menyerupai warna beberapa bentuk, demikian juga dengan bentuk kucing hitam karena warna hitam lebih bisa menghimpun kekuatan-kekuatan syetan daripada warna lainnya, disamping karena warna hitam menyimpan daya panas”.4 Selanjutnya Ibnu Taimiyyah juga menyatakan jika jin bisa menyerupai bentuk manusia dan binatang, seperti ular, kalajengking, onta, sapi, kambing, kuda, bighal, keledai, burung dan anak keturunan Adam ‘alaihissalam.

Dari ketiga jenis jin tersebut, dua jenis yang pertama memiliki kemampuan untuk berubah-ubah bentuk/menjelma menyerupai manusia dan binatang dalam pencitraan (kita tidak dapat melihat wujud nyatanya), yaitu ketika jin itu berada dalam tubuh manusia akan mencitrakan dirinya dengan berbagai bentuk, baik itu bentuk manusia maupun berbagai bentuk binatang. Hal ini akan memberikan konskwensi terhadap berbagai macam bentuk kepribadian manusia apabila jin tersebut masuk dalam tubuh manusia sesuai dengan jenis pencitraan manusia atau binatang yang ada didalamnya. Lebih jelasnya adalah sebagai berikut:

Pertama, pencitraan jin dalam bentuk binatang. Misalkan saja jin dalam bentuk harimau atau singa, keduanya memiliki karakter yang hampir sama, jika seseorang kemasukan jin dan jinnya mengaku berbentuk jin harimau atau singa maka orang yang kemasukan tersebut akan memiliki sifat lebih percaya diri, ada perasaan merasa hebat, kuat, berani, cenderung buas, kejam, mudah marah, sadis, reaktif yang kuat dan mudah emosi. Jika jin yang masuk ke tubuh manusia mencitrakan dirinya dalam bentuk ular, maka akan menunjukkan ciri khasnya yaitu diam, menutup diri, cenderung mempersulit diri, berbelit-belit, tarik ulur pada kebenaran, memberikan efek gatal di tubuh, jika diruqyah kekuatannya bertahan di tulang ekor, memberikan kontribusi syahwat besar, mempertajam libido. Jika jin mencitrakan dirinya dalam bentu kera, biasanya karakternya suka menyerobot, mencuri, seenaknya sendiri, cenderung tega, egois, reaktif tetapi tidak kuat, suka clometan. Jika Pencitraan bentuk anjing, biasanya dari kalangan jin ifrit, cenderung mewakili dunia sihir. Ciri khasnya suka menggigit kalau diruqyah, suka yang kotor-kotor, najis, biasanya suka jalan (ngluyur) dan kecenderungan hanya cari duit aja. Jika yang masuk pencitraan jinnya dalam bentuk burung garuda atau rajawali biasanya cenderung berwibawa, penuh selidik, sekali marah daasyat. Jika dalam pencitraan kura-kura cenderung malas, kerjanya lamban, dan lain sebagainya.

Kedua, pencitraan jin dalam bentuk manusia, misalkan manusia bersorban, biasanya suka berdebat, cenderung sok religi, merasa benar dengan pendapatnya, senang dengan kebid’ahan, jika diruqyah akan melawan dengan menbaca ayat al Qur’an pula, terkadang membantu ketaatan; misal memebangunkan sholat malam dll, dalam beribadah cenderung mengandalkan semangat tanpa ilmu, mudah mengelabui peruqyah karena antara jin dan manusianya hampir sama. Kalau manusia bentuk tinggi, besar, hitam, mata merah biasanya mengaku dari kalangan ifrit. Sifatnya ganas, jahat, reaktif, suka mengancam, memukul, tidak cerdas, nafsu besar, mudah tersinggung dan lain sebagainya. Cirinya dia gampang menyerah, tunduk, dan masuk Islam jika kalah. Jika manusia bentuk pocong, ciri menonjol adalah pendusta, spesialisasi mengingatkan masa lalu yang buruk. Jika jin yang masuk mencitrakan dirinya manusia setengah hewan, seperti bentuk uniqon, manusia setengah kuda menggambarkan karakter setengah manusia dan binatang kadang tampak bijak tapi kadang tiba-tiba langsung garang. Jika jin yang masuk mencitrakan dirinya yang tua, maka jenis jin ini biasanya mewakili jin turunan atau sihir yang sudah lama; mempunyai sifat temuwo, suka benda-benda antik, senang dengan mitos, jahat. Terkadang orang kemasukan jin karena sebab hobinya mancing yang ekstrem biasanya kalau diruqyah hampir semua binatang air ada dalam tubuhnya. Tujuannya adalah agar mengokohkan orang tersebut untuk suka mancing “mancing mania” menjadi penguasa air. Ada juga yang mengaku kuntilanak, nyi roro kidul dan begitulah seterusnya…

Semua yang sudah dijelaskan diatas berdasarkan sumber data dari lapangan yang dicermati selama bertahun-tahun dan juga literatur kitab-kitab (diantaranya lihat kitab ad da’ wad dawaa’ hal 138-139), bisa salah tapi insyaAlloh lebih banyak benarnya. Jadi bisa disimpulkan bahwa jin yang masuk ke dalam tubuh manusia akan membaca pikiran manusia dengan segenap keyakinan dan kebiasaan prilaku hidupnya yang kemudian menyesuaikan dirinya dengan apa yang diyakini oleh manusia tersebut. Di situlah jin akan mencitrakan dirinya sesuai dengan kebiasaan orang tersebut dan juga mitos-mitos yang ada –berkembang dimasyarakat. Sampai tulisan ini ditulis eksplorasi tentang pemaknaan jin masuk ke tubuh manusia masih dilakukan. Dan memungkinkan untuk mengalami penambahan selanjutnya. Wallahu ‘alam bi showab.
———————————————–
1 Fathul Baari, 4/489
2 Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Thabrani dalam Al Kabir dan Ibnu Abi Hatim di dalam Al’llal. Dishahihkan oleh al Hakim di dalam ash shohihah, 4/439 nomor 1824
3 Diriwayatkan oleh Muslim di dalam kitabul musaqat
4 Risalatul Jinni, hal 41

Thursday, 28 May 2015

FENOMENA PENAMPAKAN JIN DI MASYARAKAT



               

SIAPA SAJA YANG BISA MELIHAT JIN ? 
Dalam surat al-A’raaf ayat 27 juz 8 Allah telah mengabarkan bahwasannya bangsa jin telah diberi jatah untuk menempati suatu tempat yang mana mereka bisa melihat manusia tapi manusia tidak bisa melihat mereka.

Namun Allah menjadikan beberapa makhluk-NYA bisa melihat bangsa jin dalam dua keadaan :

1.Yang pertama adalah keadaan dimana mereka sedang “malih rupa” atau “tasyakkul” (menjelma) :
di saat itulah mereka bisa dilihat oleh siapa pun, entah itu orang yang shaleh atau durhaka, muslim atau kafir, orang yg baik maupun orang yang jahat, semuanya bisa melihatnya.
Karena di saat itulah jin sudah memasuki dimensi alam manusia dan merubah dirinya menjadi elemen padat yang menjadikannya bisa tertangkap oleh panca indra setiap orang yang melihatnya.

Contoh : Mereka biasa menjelma menjadi anjing hitam, kucing hitam, keledai, ular, tikus, bahkan manusia.

Hal ini sebagaimana yang dikisahkan dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim dari Abi Saib pelayan Hisyam bin Zahrah bahwasannya ia berkata :
“Pernah aku memasuki rumah Abu Sa’id al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dan aku menemuinya sedang melaksanakan shalat, aku pun duduk menunggunya hingga ia menyelesaikan shalatnya.
Aku mendengar ada suara benda bergerak di bawah tempat tidurnya dan ternyata itu adalah ULAR !!! aku pun beranjak untuk membunuhnya, maka Abu Sa’id al-Khudriy mengisyaratkanku untuk duduk kembali, ketika aku telah duduk beliau menunjuk ke sebuah rumah seraya berkata :
“Apakah kamu melihat rumah itu ?”

Aku menjawab : “Iya”, beliau berkata kembali : “Dulu di rumah itu ada seorang pemuda yang baru saja melaksanakan pernikahan, ia pergi bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam ke Khandaq, saat ia bersama beliau, pemuda itu datang dan meminta izin kepada Rasulullah : “Wahai Rasulullah, izinkan aku untuk menemui istriku sebentar.”

Maka Rasulullah pun mengizinkannya dan beliau bersabda : “Ambillah senjatamu, aku mengkhawatirkanmu atas bani Quraidzah..”

Pemuda itu berangkat menuju keluarganya, tiba-tiba ia menemukan istrinya sedang berdiri di antara kedua pintu, ia pun mengarahkan tombak pada istrinya karena cemburu.

Istrinya berkata : “Jangan terburu-buru untuk marah kepadaku, masuklah ke rumah dan lihat lah apa yang ada di dalam rumahmu…”

Ia pun masuk ke dalam rumah dan ternyata di dalamnya terdapat ular besar yang melingkar di atas kasurnya, lalu ia menikam ular tersbut dengan tombak, maka ia menusuknya hingga tembus dengannya, kemudian ia keluar, lalu menancapkannya di dalam daar (perkampungan, rumah)...  lalu ular itu melilitnya.. maka tidak diketahui, siapakah yang lebih dulu mati, ular atau anak muda itu....??!!
Maka hal itu pun dilaporkan kepada Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wa sallam, beliau pun bersabda :

إن بالمدينة جنا قد أسلموا فإذا رأيتم منهم شيئا فآذنوه ثلاثة أيام فإن بدا لكم بعد ذلك فاقتلوه فإنما هو شيطان

“Sesungguhnya di Madinah ini terdapat jin yang sudah masuk islam, apabila kalian melihatnya maka berilah mereka izin selama tiga hari, apabila tetap terlihat lebih dari itu maka bunuhlah karena itu adalah setan !”



2.Yang kedua adalah keadaan mereka dalam bentuk ghaib-nya, yaitu secara kasat mata.
Karena jin itu seperti angin walau asal penciptaannya adalah api, sebagaimana manusia yang berbentuk dari himpunan tulang, otot, daging, kulit, walau asal penciptaannya dari tanah…
Saat jin masih dalam keadaannya yang asli (kasat mata) mereka tidak dapat dilihat oleh siapa pun kecuali golongan-golongan berikut :

-Para Nabi dan Rasul
Sebagian dari mereka ‘alaihimussholatu was-salaam Allah berikan kemampuan untuk melihat bangsa jin, dan itu pun tidak semuanya diberi kemampuan seperti itu sebagaimana yang telah disebutkan di dalam surat al-Jinn ayat 26-27 :

عَالِمُ الْغَيْبِ فَلَا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا  إِلَّا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ 

"Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengetahui hal ghaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang hal ghaib itu, kecuali kepada para rasul yang diridhai-Nya"

-as-Saharah (Tukang Sihir),
Para tukang sihir dapat melihat jin yang diajak kerjasama dengannya secara ghaib dan kasat mata, mereka bisa berbicara dengan para jin, dan mereka pun dapat memantau pekerjaan para jin suruhannya di dalam tubuh si korban, namun hakikatnya mereka tidak melihat dengan mata yang hakiki melainkan dengan pertolongan dari jin lain untuk dapat melihatnya.
Kasus penglihatan tukang sihir ini lah yang banyak terjadi di masyarakat Indonesia khususnya, entah  karena mereka sengaja mempelajari sihir atau pun karena mereka terkena imbas dari faktor keturunan dari salah satu leluhur yang dulu pernah mempelajari ilmu sihir.

Inilah yang disebut dengan “Mukasyafah Syaithaniyyah” atau yang sering orang bilang dengan indra ke-enam.

Hal ini pernah terjadi pula di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang kisah Ibnu Shayyad, yaitu orang yang dapat melihat singgasana Iblis laknatullahi ‘alaih yang berada di atas laut, berikut kisahnya :

لما قال النبي صلى الله عليه وسلم لابن صياد ما ترى قال أرى عرشا على الماء. فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: " أخسأ فلن تعدو قدرك " فعرف أن مادة مكاشفته التي كاشفه بها شيطانية مستمدة من إبليس الذي هو يشاهد عرشه على البحر 

Ketika nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya kepada Ibnu Shayyad "Apa yg kamu lihat ?" Ibnu Shayyad menjawab "aku melihat singgasana yang berada di atas air, maka Nabi pun bersabda : "Celakalah !!! kamu tidak akan beruntung dgn kemampuanmu.." maka ia pun tau bahwa sumber indra ke enam yang disingkapkan dengannya adalah bersumber dari Iblis yang telah memperlihatkan singgasananya di atas laut"

Perbedaan antara penglihatan para Nabi dan tukang sihir, bahwa para Nabi dan Rasul melihat bangsa jin dengan penglihatan asli mereka, sedangkan para tukang sihir melihatnya dengan bantuan dan tipuan bangsa jin, sehingga pada dasarnya yang diperbudak adalah tukang sihirnya, bukan bangsa jinnya.
Jadi jika ada “KIKUN” yang berhujah bahwasannya ia bisa melihat jin karena nabi Sulaiman juga bisa melihat jin dan bekerjasama dengan mereka, maka hujahnya sangat tidak tepat dan malah terjerumus dalam pengklaiman kenabian terhadap dirinya sendiri, karena yang ada pada nabi Sulaiman itu adalah suatu MUKJIZAT yang tidak bisa diajar-ajarkan ke orang lain dan mukjizat beliau adalah mukjizat khusus yang tidak akan pernah diberikan oleh orang-orang setelahnya.
Apalagi orang yang mengaku dan mempraktekkan kelihaiannya dalam melukis jin di atas kanvas, maka itu jelas tipuan dari bangsa jin dan itu bukan wujud asli bangsa jin yang ia lukis.

-Korban Sihir
Tidak semua korban sihir dapat melihat bangsa jin, korban sihir yang sering dilihati jin adalah korban sihir yang telah memakan media sihir yang dicampur dengan makanan dalam jangka waktu yang cukup lama, para korban dapat melihat jin secara  kasat mata ketika mereka dalam keadaan lalai, frustasi, putus asa dari rahmat Allah, dan berbagai macam perasaan yang menimbulkan pengaruh buruk di hati, semakin lama sihirnya maka wujud jin yang ia lihat akan semakin jelas. Wallahu a’lam

-Yang terakhir adalah Keledai,
Sebagaimana yg disebutkan di dalam hadits :

إذا سمعتم نهيق الحمار فتعوذوا بالله من الشيطان فإنها رأت شيطانا

“Apabila kalian mendengar suara ringkikan keledai maka mintalah perlindungan kepada Allah, karena sesungguhnya ia telah melihat setan”
(HR.Bukhari no 3127)


PENAMPAKKAN HANTU MENURUT PANDANGAN ISLAM

La 'adwa wa laa shofar wa laa HAAMAH (hantu)...

لَا عَدْوَى وَلَا صَفَرَ وَلَا هَامَةَ

Tidak ada penyakit yg menular, tidak ada Shafar (kematian dikarenakan penyakit cacing perut) yg terjadi dgn sendirinya,, dan tidak ada HANTU...

(HR.Muslim no.4116)

yg dimaksud "HAAMAH" utawa hantu dlm hadits tsb adalah roh orang mati yg gentayangan sebagaimana kepercayaan arab jahiliyyah dulu, dan bukan dimaksudkan untuk menafikan adanya bangsa jin... karena kebanyakan dari mitos yg menyatakan asal usul hantu dengan berbagai nama ini berasal dari amalan jahiliyyah dan animisme mereka dulu.

Lalu bagaimana menurut islam tentang PENAMPAKKAN HANTU yang sering tersebar beritanya..???

Berkata al-Qadhi abu Ya'la bin Hussein bin Farra':

و لا قدرة للشياطين علي تغيير خلقهم و الانتقال في الصور و إنما يجوز أن يعلمهم الله تعالي كلمات و ضروبا من ضروب الأفعال إذا فعله و تكلم به نقله الله تعالي من صورة إلي صورة...فيقال: إنه قادر علي التصوير و التخييل علي معني أنه قادر علي قول إذا قاله و فعله نقله الله عن صورته الي صورة أخري بجري العادة ، و أما أنه يصور نفسه فذلك محال، لأن انتقالها عن صورة إلي صورة إنما يكون بنقض البينةو تفريق الأجزاء و إذا انتقضت بطل الحياة...

Setan-setan TIDAK MEMPUNYAI KEMAMPUAN untuk mengubah wujud mereka, dan meniru bentuk lain... Tetapi mereka hanya diajarkan Allah Ta'ala beberapa kalimat dan jurus.. Jika mereka mengamalkan dan mengucapkan kalimat tsb, Allah akan mengubah wujudnya ke bentuk yang lain.. Bisa dikatakan bahwa kemampuan setan untuk merubah wujud terjadi jika ia mengucapkan kalimat-kalimat atau mengamalkan jurus-jurus tsb, maka Allah akan merubah mereka menyerupai bentuk makhluk lain sbagaimana yang sering terjadi !!

Sedangkan jka mereka sendiri yg ingin mengubah wujudnya, maka hal itu merupakan sesuatu yg MUSTAHIL !!! Karena proses perubahan wujud dari satu bentuk ke bentuk yg lain bisa terjadi setelah ia MENGHANCURKAN DIRINYA dan MENCERAI BERAIKAN ANGGOTA TUBUHNYA, dan jika wujudnya hancur maka ia akan MATI...

Pendapat beliau dikuatkan pula oleh sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah:


إن الغيلان ذكرواعند عمر ابن الخطاب فقال: إن أحدا لا يستطيع أن يتحول عن صورته التي خلقه الله عليها ولكن منهم سحرة كسحرتكم. فإذا رأيتم ذلك فأذنوا...

Sungguh ada sesosok HANTU yang muncul di hadapan Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, maka beliau berkata: "Sesungguhnya TIDAK ADA SEORANG PUN YANG DAPAT MENGUBAH DIRINYA DARI BENTUK ASLINYA, TAPI MEREKA (bangsa jin) MEMILIKI TUKANG SIHIR SEBAGAIMANA TUKANG SIHIR KALIAN (manusia), jika kalian melihat mereka, hendaklah kalian mengumandangkan ADZAN.."

(Fathul baari jilid 6 hal.344)

Imam Nawawi berkata: "TIDAK ADA HANTU, ADANYA ADALAH "AS-SU'ALAA"

As-Su'alaa adalah golongan PENYIHIR dari bangsa JIN...

Semoga tulisan yang sedikit ini bisa menjawab pertanyaan pertanyaan yang selama ini ditanyakan oleh masyarakat

TAFSIR MIMPI MENURUT PANDANGAN ISLAM

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:


لَمْ يَبْقَ مِنْ النُّبُوَّةِ إِلَّا الْمُبَشِّرَتُ قَالُوا وَمَا الْمُبَشِّرَاتُ قَالَ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ

“Kenabian tak ada lagi selain berita-berita gembira.”

Para sahabat bertanya, “Apa yang di maksud dgn kabar-kabar gembira?”

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Mimpi yang baik.”
(HR. Al-Bukhari no. 6990)

Dari Ibnu Abbas radhiallahu anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda:

مَنْ تَحَلَّمَ بِحُلْمٍ لَمْ يَرَهُ كُلِّفَ أَنْ يَعْقِدَ بَيْنَ شَعِيرَتَيْنِ وَلَنْ يَفْعَلَ وَمَنْ اسْتَمَعَ إِلَى حَدِيثِ قَوْمٍ وَهُمْ لَهُ كَارِهُونَ أَوْ يَفِرُّونَ مِنْهُ صُبَّ فِي أُذُنِهِ الْآنُكُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ صَوَّرَ صُورَةً عُذِّبَ وَكُلِّفَ أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا وَلَيْسَ بِنَافِخٍ

“Barangsiapa menyatakan sebuah mimpi yang dia tak bermimpi dengannya maka dia akan dibebani utk membuat simpul dgn dua helai rambut padahal dia tak akan bisa melakukannya. Barangsiapa yang mencuri dengar pembicaraan suatu kaum padahal mereka tak menyukai atau telah menyingkir utk menghindarinya, maka telinganya akan dialiri cairan tembaga pada hari kiamat. Dan barangsiapa yang menggambar maka dia akan disiksa & dibebani utk menghidupkannya padahal dia tak akan mampu.”
(HR. Al-Bukhari no. 7042)

Maksud membuat simpul dgn dua helai rambut adalah: Pada hari kiamat dia akan dibebani utk mengerjakan sesuatu yang tak mungkin agar siksaannya bertambah lama karena dia tak akan sanggup mengerjakannya.
Penjelasan ringkas:Mimpi mempunyai kedudukan yang agung dlm Islam, bagaimana tak padahal Nabi shallallahu alaihi wasallam telah menjadikannya sebagai isyarat akan datangnya kabar gembira. Bahkan dlm hadits yang lain beliau shallallahu alaihi wasallam telah bersabda:

الرُّؤْيَا الْحَسَنَةُ مِنْ الرَّجُلِ الصَّالِحِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ

“Mimpi baik yang berasal dari seorang yang saleh adalah satu bagian dari 46 bagian kenabian.”
(HR. Al-Bukhari & Muslim)

Menjelaskan hadits yang semakna dgn di atas, Asy-Syaikh Muhammad Al-Utsaimin rahimahullah berkata,

” Makna sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

رُؤْيَا الْمُؤْمِنِ جُزْءٌ مِنْ سِتَّةٍ وَأَرْبَعِيْنَ جُزْءًا مِنَ النُّبُوَّةِ

adalah apa yang diimpikan seorang mukmin akan terjadi dgn benar, karena mimpi tersebut merupakan permisalan yang dibuat bagi orang yang bermimpi. Terkadang mimpi itu adalah berita tentang sesuatu yang sedang atau akan terjadi. Kemudian sesuatu itu benar terjadi persis seperti yang diimpikan. Dengan demikian, dari sisi ini mimpi diibaratkan seperti nubuwwah dlm kebenaran apa yang ditunjukkannya, walaupun mimpi berbeda dgn nubuwwah. Karena itulah mimpi dikatakan satu dari 46 bagian nubuwwah. Kenapa disebut 46 bagian, karena hal ini termasuk perkara tauqifiyyah (yang ditetapkan hanya dgn wahyu). Tidak ada yang mengetahui hikmahnya sebagaimana halnya bilangan-bilangan rakaat dlm shalat.Adapun ciri orang yang benar mimpinya adalah seorang mukmin yang jujur, bila memang mimpinya itu mimpi yang baik/bagus. Jika seseorang dikenal jujur ucapannya ketika terjaga, ia memiliki iman & takwa, maka secara umum mimpinya benar. Karena itulah hadits ini pada sebagian riwayatnya datang dgn menyebutkan adanya syarat, yaitu mimpi yang baik/bagus dari seorang yang shalih.

Dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَصْدَقُهُمْ رُؤْيًا أَصْدَقُهُمْ حَدِيْثًا

“Orang yang paling benar mimpinya adalah orang yang paling jujur ucapannya.”

Akan tetapi perlu diketahui di sini bahwa mimpi yang dilihat seseorang dlm tidurnya itu ada tiga macam:Pertama: Mimpi yang benar lagi baik. Inilah mimpi yang dikabarkan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai satu dari 46 bagian kenabian. Secara umum, mimpinya itu tak terjadi di alam nyata. Namun terkadang pula terjadi persis seperti yang dilihat dlm mimpi.

Terkadang terjadi di alam nyata sebagai penafsiran dari apa yang dilihat dlm mimpi. Dalam mimpi ia melihat satu permisalan kemudian ta’bir dari mimpi itu terjadi di alam nyata namun tak mirip betul.

Contohnya seperti mimpi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beberapa waktu sebelum terjadi perang Uhud. Beliau mimpi di pedang beliau ada rekahan/retak & melihat seekor sapi betina disembelih. Ternyata retak pada pedang beliau tersebut maksudnya adalah paman beliau Hamzah radhiyallahu ‘anhu akan gugur sebagai syahid. Karena kabilah (kerabat/keluarga) seseorang kedudukannya seperti pedangnya dlm pembelaan yang mereka berikan berikut dukungan & pertolongan mereka terhadap dirinya. Sementara sapi betina yang disembelih maksudnya adalah beberapa sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum akan gugur sebagai syuhada. Karena pada sapi betina ada kebaikan yang banyak, demikian pula para sahabat radhiyallahu ‘anhum.

Mereka adalah orang-orang yang berilmu, memberi manfaat bagi para hamba & memiliki amal-amal shalih.

Kedua: Mimpi yang dilihat seseorang dlm tidurnya sebagai cermin dari keinginannya atau dari apa yang terjadi pada dirinya dlm hidupnya. Karena kebanyakan manusia mengimpikan dlm tidurnya apa yang menjadi bisikan hatinya atau apa yang memenuhi pikirannya ketika masih terjaga (belum tidur) & apa yang berlangsung pada dirinya saat terjaga (tidak tidur). Mimpi yang seperti ini tak ada hukumnya.

Ketiga: Gangguan dari setan yang bermaksud menakut-nakuti seorang manusia, karena setan dapat menggambarkan dlm tidur seseorang perkara yang menakutkannya, baik berkaitan dgn dirinya, harta, keluarga, atau masyarakatnya.

Hal ini dikarenakan setan memang gemar membuat sedih kaum mukminin sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا النَّجْوَى مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِيْنَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ شَيْئًا إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ

“Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu dari setan, dgn tujuan agar orang-orang beriman itu bersedih hati, padahal pembicaraan itu tidaklah memberi mudarat sedikitpun kepada mereka kecuali dgn izin Allah ….”
(Al-Mujadilah: 10)

Setiap perkara yang dapat menyusahkan seseorang dlm hidupnya & mengacaukan kebahagiaan hidupnya merupakan target yang dituju oleh setan. Ia sangat bersemangat utk mewujudkannya, baik orang yang hendak diganggunya itu tengah terjaga atau sedang larut dlm mimpinya.

Karena memang setan merupakan musuh sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوْهُ عَدُوًّا

“Sesungguhnya setan itu merupakan musuh bagi kalian maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (Fathir: 6)(Dinukil dari Majmu’ Fatawa wa Rasa`il Fadhilatisy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin, 1/327-330 via: www.asysyariah.com/print.php?id_online=504)

Pembagian mimpi yang Asy-Syaikh sebutkan di atas disebutkan dlm riwayat Imam Muslim no. 4200 dari hadits Abu Hurairah radhiallahu anhu secara marfu’:

إِذَا اقْتَرَبَ الزَّمَانُ لَمْ تَكَدْ رُؤْيَا الْمُسْلِمِ تَكْذِبُ وَأَصْدَقُكُمْ رُؤْيَا أَصْدَقُكُمْ حَدِيثًا وَرُؤْيَا الْمُسْلِمِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسٍ وَأَرْبَعِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ وَالرُّؤْيَا ثَلَاثَةٌ فَرُؤْيَا الصَّالِحَةِ بُشْرَى مِنْ اللَّهِ وَرُؤْيَا تَحْزِينٌ مِنْ الشَّيْطَانِ وَرُؤْيَا مِمَّا يُحَدِّثُ الْمَرْءُ نَفْسَهُ فَإِنْ رَأَى أَحَدُكُمْ مَا يَكْرَهُ فَلْيَقُمْ فَلْيُصَلِّ وَلَا يُحَدِّثْ بِهَا النَّاسَ

“Apabila hari kiamat telah dekat, maka jarang sekali mimpi seorang muslim yang tak benar. Dan orang yang paling benar mimpinya di antara kalian adalah yang paling benar ucapannya. Mimpi seorang muslim adalah sebagian dari 45 macam nubuwwah (wahyu).

Mimpi itu ada tiga macam:
(1) Mimpi yang baik sebagai kabar gembira dari Allah.
(2) mimpi yang menakutkan atau menyedihkan, datangnya dari syetan.
(3) & mimpi yang timbul karena ilusi angan-angan, atau khayal seseorang.

Karena itu, jika kamu bermimpi yang tak kamu senangi, bangunlah, kemudian shalatlah, & jangan menceritakannya kepada orang lain.”
Maka dari penjelasan di atas kita bisa melihat bahwa mimpi sekalipun yang baik & berasal dari Allah maka itu hanya bersifat membawa kabar gembira kepada sang pemilik mimpi atau orang yang berada di sekitarnya. Karenanya mimpi tidaklah dapat dijadikan sebagai patokan syariat.

Dalam artian dgn mimpi itu seseorang tak boleh menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal, mengamalkan sebuah ibadah yang baru maupun meninggalkan suatu ibadah yang sudah pasti pensyariatannya. Karena hal itu berarti menjadikan mimpinya sebagai pembuat syariat, padahal syariat sudah baku dgn wafatnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, tak akan mungkin berubah & tak akan ada yang diganti. Karenanya siapa saja yang mengadakan perubahan atau penambahan dlm syariat Islam dgn beralasan dia menerima hal itu dlm mimpi ketika dia bertemu Nabi shallallahu alaihi wasallam maka sungguh dia adalah orang yang tertipu dgn setan & apa yang dia lihat di dlm mimpinya pastilah bukan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Sebagai tambahan keterangan berikut kami bawakan nukilan yang bermanfaat dari: fadhlihsan.wordpress.com/2010/05/02/risalah-seputar-mimpi:

Tanda-tanda utk Mengenal Sebuah MimpiYang pertama: Tanda-tanda Mimpi yang Benar
1. Bersih dari mimpi kosong, bayangan-bayangan yang menakutkan & meresahkan.

2. Dapat dipahami ketika terjaga. Yang bermimpi tak melihat dlm tidurnya sesuatu yang bertolak belakang, seperti mimpi melihat orang berdiri dlm keadaan duduk.

3. Tidur dlm keadaan pikirannya jernih, tak disibukkan oleh satu persoalan pun. Karena pada umumnya, mimpi orang yang seperti ini adalah karena bisikan jiwanya (angan-angannya) sebelum tidur. Misalnya dia dlm keadaan haus lalu tertidur & dlm tidurnya dia mimpi sedang minum. Atau lapar lalu mimpi sedang makan & sebagainya.

4. Mimpi tersebut dapat dita’wil & sesuai dgn yang ada di dlm Lauhul Mahfuzh. Kalau mimpi itu kadang terlihat begini atau kadang begitu, maka itu tidaklah dinamakan mimpi yang baik & benar. Karena mimpi yang benar itu harus tersusun rapi yang sesuah & memungkinkan utk dita’wilkan (ditafsirkan).
Yang Kedua: Mimpi yang Diperbuat oleh SyaithanMimpi ini sangat berbeda dgn yang telah kami paparkan. Sehingga kalau mimpi itu meliputi berbagai perkara yang mendatangkan duka cita, keresahan, ketakutan & sebagainya, maka tak perlu diperhatikan karena itu adalah buatan syaithan.

Al-’Allamah ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di rahimahullah mengatakan:
“Perbedaan antara ahlam (mimpi-mimpi yang tak benar) yang merupakan mimpi-mimpi kosong & tak bisa dita’wil, seperti orang yang bermimpi dlm keadaan dia sibuk berpikir & berangan-angan terhadap suatu persoalan. Maka kebanyakan yang dilihatnya dlm tidurnya adalah sejenis dgn apa yang dipikirkannya ketika dia dlm keadaan jaga. Jenis ini biasanya adalah mimpi kosong yang tak ada ta’wilnya.Demikian juga bentuk lain yang dilemparkan syaithan kepada ruh orang yang tidur, berupa mimpi dusta & makna-makna yang kacau. Ini juga mimpi yang tak ada ta’wilnya. Dan tak perlu menyibukkan pikirannya dgn hal ini. Bahkan sebaiknya dia membiarkannya begitu saja.Adapun mimpi yang benar, maka itu adalah ilham yang diberikan Allah kepada ruh ketika dia lepas dari jasad pada waktu tidur. Atau tamsil (permisalan) yang dibuat oleh malaikat bagi seorang manusia agar dia memahami apa yang sesuai dgn tamsil itu. Yakni, kadang dia melihat sesuatu sesuai hakekatnya, & ta’birnya adalah apa yang dilihatnya dlm tidurnya.”

[Al-Majmu’atul Kamilah li Mu’allafat Ibnu Sa’di, (1/108)]

Pembagian Golongan Manusia Menurut MimpiTelah kami uraikan pembagian mimpi ini menurut mimpi itu sendiri. Sedangkan menurut orang yang melihatnya (yang bermimpi), juga terbagi menjadi beberapa bagian. Dan ini sesuai dgn jujur tidaknya orang yang bermimpi.

Berdasarkan keadaan orang yang bermimpi, ahli ilmu membagi keadaan manusia sehubungan dgn mimpi ini menjadi lima bagian, yaitu:
1. Para Nabi
2. Shalihun (orang-orang shalih)
3. Masturun (yang tak diketahui keadaannya)
4. Fasaqah (orang-orang fasik)
5. Kuffar (orang-orang kafir)

1. Mimpi para nabiMereka adalah manusia-manusia yang paling jujur (benar) mimpinya, & ini tak diragukan lagi. Karena mereka adalah orang-orang yang paling benar (jujur) ucapan & perbuatannya. Sebab itulah mimpi Nabi kita shallallahu ‘alaihi wasallam bagaikan cahaya subuh (pagi) yang terang, karena mimpi beliau adalah wahyu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala kepada beliau.

2. Mimpi orang-orang shalihMereka berada pada urutan kedua setelah para nabi & rasul Allah. Yang dominan pada mimpi mereka adalah kebenaran. Namun di antaranya ada yang perlu dita’birkan & ada pula yang tak perlu, (karena mimpi itu) sudah menunjukkan suatu perkara yang sangat jelas.Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Yang paling benar mimpinya adalah yang paling benar ucapannya.”Dan beliau juga bersabda:“Mimpi yang baik dari orang yang shalih adalah satu dari 46 bagian kenabian (nubuwwah).” (HSR. Al-Imam Al-Bukhari & Muslim)

3. Mimpi para masturin (orang yang tak dikenal keadaannya)Yaitu orang-orang yang tak diketahui apakah dia melakukan shalat, berzakat, haji & ketaatan lainnya, mereka kurang dlm sebagian amalan & mempunyai dosa yang lebih rendah dari syirik. Mereka ini juga mempunyai mimpi, namun kadang dari Allah & kadang dari syaithan.

4. Mimpi orang-orang fasikMimpi mereka sangat sedikit benarnya, yang paling dominan adalah mimpi-mimpi kosong yang merupakan permainan syaithan.

5. Mimpi orang yang kafirMimpi mereka sangat jarang benarnya. Hal ini karena kekejian & kekafiran mereka kepada Allah & Rasul-Nya. Dan pada umumnya mimpi mereka adalah dari syaithan. Akan tetapi kadang mereka melihat mimpi yang benar. Namun demikian dipertanyakan, apakah mimpi tersebut berasal dari wahyu atau kita katakan satu dari 46 bagian kenabian?Al-Imam Al-Qurthubi menjawab hal ini, beliau mengatakan: “Jika dikatakan bahwa mimpi yang benar itu adalah satu bagian dari kenabian, bagaimana mungkin orang yang kafir & pendusta serta kacau keadaannya memperoleh atau bisa mendapatkannya?Jawabnya ialah bahwasanya orang yang kafir, fajir (jahat), fasik & pendusta itu, meskipun suatu ketika mimpi mereka benar, itu bukanlah dari wahyu & bahkan juga bukan dari nubuwwah. Karena tidaklah semua yang benar dlm berita tentang perkara ghaib, lantas beritanya merupakan nubuwwah. Dan sudah dijelaskan dlm surat Al-An’am bahwa seorang dukun atau yang lainnya (paranormal & sejenisnya) kadang-kadang menyampaikan suatu berita dgn pernyataan yang benar (haq) lalu dibenarkan (dipercayai). Akan tetapi hal itu sangat jarang & sedikit sekali. Demikian pula mimpi mereka ini.” [Tafsir Al-Qurthubi, (9/124)]

Larangan Berdusta Tentang MimpiDiriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:“Barangsiapa yang mengaku telah bermimpi sesuatu padahal sebenarnya tak maka ia akan dipaksa utk duduk di antara dua helai rambut & ia pasti tak akan mampu melakukannya.” (HR. Bukhori no. 7042)Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:“Kedustaan yang paling besar ialah seorang laki-laki yang mengaku telah bermimpi melihat sesuatu padahal ia tak melihatnya.” (HR. Bukhori no. 7043)Ada beberapa hadits lain yang termasuk dlm bab ini, yaitu dari Ali, Abu Hurairah, Abu Syuraih & Watsilah radhiyallahu ‘anhum.Dari hadits di atas bisa diambil pelajaran:1. Haram berdusta tentang mimpi & perbuatan itu termasuk dosa besar yang terbesar, karena ia telah berdusta terhadap Allah. Adapun dusta yang dilakukan saat terjaga adalah dusta terhadap makhluk.2. Mimpi itu dari syaitan, oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menamakan al-hulm bukan ru’ya. Dan hulm (mimpi) di sini adalah dusta & itu berarti dari syaitan.
[Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an & As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/515-515]
Mimpi yang SamaJika ada sekelompok orang melihat mimpi yang sama, ini dinamakan kesesuaian, meskipun ungkapannya berbeda-beda.Ibnu Hajar rahimahullah berkata ketika menerangkan makna hadits Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma, bahwa ada beberapa shahabat bermimpi malam lailatul qadar pada 7 malam terakhir…Kata beliau: “Faedah dari hadits ini menunjukkan bahwa kesesuaian (kesamaan) mimpi pada sekelompok orang, menegaskan tentang tepat & benarnya mimpi itu. Sebagaimana diambil faedah tentang kuatnya suatu berita yang bersumber dari satu kelompok.” [Fathul Bari (12/380)]

Apakah Mimpi Itu akan Terjadi Segera setelah Dita’birkan?

Sebagian orang menunggu terjadinya ta’bir mimpi yang dilihatnya. Ini jelas tak benar. Karena tercapainya tujuan mimpi yang mungkin saja tertunda satu atau beberapa tahun. Tidakkah anda lihat bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melihat mimpi pembebasan kota Makkah sebelum ditaklukkan, satu tahun sebelumnya?

Bahkan Nabi Yusuf ‘alaihi salam tak melihat bukti ta’bir mimpinya kecuali setelah lebih dari 30 tahun.

Maka terjadinya kejadian yang bersifat kodrati ini adalah dgn takdir Allah Subhanahu wa Ta’ala pada waktunya yang telah tertulis di sisi-Nya di Lauhul Mahfuzh.Terburu-buru mengharapkan terjadinya, bukanlah tuntutan yang semestinya.

Akan tetapi yang perlu diperhatikan adalah kesiapan jiwa utk menghadapi bukti mimpi tersebut, kalau di dalamnya terdapat berita gembira (busyra) yang ditunggu, atau peringatan.Wallahu a’lam bish-shawab.
[Referensi: Kamus Tafsir Mimpi (judul asli: Qamusu Tafsirul Ahlam) karya Khalid bin ‘Ali bin Muhammad Al ‘Anbari, alih bahasa oleh Abu Muhammad Harits Abrar Thalib, penerbit: Pustaka Ar Rayyan]